MENAMBAH WAWASAN, SEBAGAI SARANA PENDIDIKAN TANPA MENGHILANGKAN HIBURAN


Breaking News

Wednesday, 1 February 2017

Hutan Hidupku


CERPEN LINGKUNGAN
J
ika anda adalah seorang pecinta alam datanglah ke tempat tinggalku. Disini anda dapat melihat dunia hijau bak padang rumput.
Sungguh aku bukan berlebihan, melainkan ini merupakan kenyataan.  Di sini angin datang dengan melambai-lambai. Daun menari dipucuk batang. Dengan mudah aku menggapai buah-buahan tanpa mengeluarkan uang. Perut ku terasa cepat sekali kenyang. Tubuh pun selalu sehat dan bugar. Aku sangat suka memanjat pohon dan menikmati buahnya. Kadang kala kubayangkan buah jatuh berlimpah mengetuk bumi menyebarkan keharuman, menggetarkan tanah, menari riang bersama daun. Kemudian aku berbaring diatas tanah yang dipenuhi oleh buah-buahan manis. Lalu aku mengupas dan menikmatinya
Di sini hujan sering turun dan, uniknya, hampir selalu hanya berupa gerimis. Sesekali saja terjadi hujan lebat dengan angin ribut atau geledek membentak-bentak di angkasa.
Apabila hujan turun, aku paling suka duduk dekat jendela sambil melipat tangan di meja. Kulayangkan pandangan ke luar sambil menyimak ketukan air tempias ke kaca. Dari jendela tampak hewan menari bersama dengan tumbuh-tumbuhan. Mereka seperti sahabat, saling melengkapi dan melindungi. Dalam kondisi kering, hutan yang memberikan tempat tinggal bagi makhluk hidup nan indah ini, warnanya sangat asri dan terlihat indah, hijau dan memberikan nuansa alam yang bergentayangan. Pada bagian tertentu meruap juga nuansa biru yang asli, meski tidak mencolok. Sungai itu ada sejak aku lahir, dan ketika hujan turun, sungai itu dimanjakan dengan titik-titik kecil dan bunyi ketukan itu meraup ditelinga seperti suara gitar spanyol nan indah.
Selain itu, yang kunikmati manakala hujan tengah mempersembahkan baktinya kepada bumi adalah angkasa kelabu yang menggigil dan memuncratkan seluruh embun yang menggenangi permukaannya kepada bentang alam yang telentang pasrah. Pernah aku membayangkan langit sebagai dada perempuan yang berdegup dengan suasana batin seorang ibu yang prihatin dan bersedih. Dada yang subur. Dada yang telanjang, tetapi sensualitasnya terselubung oleh uap samar yang menenangkan. Kemudian dada itu berpeluh. Peluh yang menyembul melalui pori-pori dan melapisi kulitnya yang halus dengan genangan embun bening menebal. Ketika angin menepuk dada itu, genangan itu luruh menjadi hujan.
Setiap hari aku selalu datang kehutan menemui sahabat-sahabatku. Menikmati surga dunia yang berada di depan kelopak mata. Mata yang sayup seakan kembali memaksa untuk tetap melihat keindahan ini tanpa berkedip sedetikpun. Tetapi perlahan-lahan angin yang kunikmati membawa kabar buruk. Gerimis yang turun seperti jarum-jarum logam pada senja itu gagal mengirimkan harum tanah dan hawa sejuk ke ruang sebuah paviliun di pinggang bukit itu. Jaket dan sweater memang tetap melekat di badan, tapi panas di kepala sangat sukar ditahan. Entah sudah berapa kali gelas-gelas dituang kopi panas. Entah sudah berapa puluh puntung rokok menggunung dalam asbak. Ruang itu tetap saja dibungkus asap. Ribuan kata pun meluncur dari belasan mulut. Kata-kata itu menjelma ular kalimat yang saling mendesak, saling menindih, saling menghantam, dan saling memagut.
Ribuan tumbuhan dan hewan berteriak histeris. Singa mengaung keras. Ribuan ular berbisa keluar dari persembunyian. Monyet hutan menguik. Semua berlari. Tumbuhan tidak dapat bergerak kemana-mana. Tumbuhan pasrah. Ribuan hewan menangis ketakutan. Dalam hati mereka ingin menerkam pembakar hutan liar. Tetapi kekuatan mereka dikalahkan oleh bom yang  secepat kilat menjalar di hutan. Hewan yang tidak sempat kabur tenggelam didalam kobaran api, begitu juga dengan tumbuhan tidak bisa lari dari kobaran api.
Mendengar  kabar tersebut aku langsung terjun kembali ke tempat tinggalku. Ternyata benar, sudah tidak ada yang tersisa lagi. Hutan sudah menjadi lumpur. Pohon tempat tubuhku bersadar sekarang menjadi kayu-kayu hitam. Para sahabat telah menjadi bangkai. Sungguh mata ini tidak sanggup melihatnya.
“Ayah, mengapa mereka melakukan ini semua, ayah!” aku menjerit memeluk ayah.
“Seperti inilah nak kenyataan pahit yang harus rakyat terima. Yang kuat menindas yang lemah, yang lemah dengan begitu mudah pasrah. Kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk hutan ini. Mereka telah mengeksploitasi untuk kepentingan kolompok”, Ayah menenangkan.
“tapi ayahhhh!”
“husshhh sudahlah lebih baik kita tinggalkan tempat ini, kita akan pindah tempat tinggal!”
Sungguh aku tidak tega melihat mata ayah yang juga mengeluarkan gerimis dari kelopak mata, membasahi pipi yang semakin tirus, dahinya mengkerut. Sejujurnya ayah juga tidak sanggup melihat hutan dan tempat tinggal kami yang berada disekitar hutan juga ikut rata menjadi lumpur hitam. Aku menuruti perintah ayah.
***
Tempa tinggalku yang baru tidak memberikan nuansa apa-apa. Sangat sepi, kehilangan sahabat yang selalu menemani hari-hari adalah sebuah kesedihan yang luar biasa. Yang Maha Kuasa telah mengambil Ayah. Bertambah lagi kesedihan dan kesepianku di dunia ini. Ingin sekali rasanya lebih baik mati saja. Tetapi aku harus tetap tabah. Berlarut-larut aku memikirkan bagaimana caranya agar hutan it kembali seperti dulu. Membagun kembali sahabatku yang telah mati. Jika aku membangun hutan itu sendiri, pasti akan membutuhkan waktu lama. Dan akhirnya berkat keteguhan hati dan keseriusanku dalam membangun hutan tersebut hingga menjadi tumbuh dan berkembang lagi. Walau tidak seperti dulu. Bertahun-tahun lamanya aku menunggu sahabat ku kembali. Tumbuhan dan hewan kembali. Sahabat ku kembali. Aku tidak kesepian lagi.
***
Kebiasaanku menikmati hujan dan berbaring di atas pohon tidak pernah berubah, meski tidak sesering dulu. Mungkin intensitas penikmatannya pun tidak sedalam dulu, entahlah. Sesekali aku masih keluar rumah ketika gerimis mulai turun, yang menimbulkan kejengkelan anak bungsuku dan menantu yang tinggal serumah dengan kami. Istriku sendiri tidak banyak cakap. Kukira dia sudah tahu tidak ada gunanya melarang aku menikmati hujan.
”Kalau Papa sakit bagaimana? Sudah tua masih suka keluyuran dalam hujan. Ini payung dan jas hujan.”
Kecerewetannya sungguh menjengkelkan.
”Apakah dulu aku pernah melarang kamu dan kakak-kakakmu berhujan-hujan?” begitulah aku pernah mengomel. Menantuku mundur dengan bijaksana, tapi putriku pantang menyerah.
CERPEN
”Iya. Malah dulu Papa cerewet sekali.”
”Apa iya?”
”Iya.”
Aku mengalah. Kuterima jas hujan parasut yang panjang selutut itu.
”Ini payungnya, Pa.”
”Tidak usah.”
Sempat kudengar gerutu putriku ketika aku membuka pintu dan melangkah, menyentuh tirai gerimis, ”Dasar keras kepala.”
***
Itu dulu, sebelum datang tahun-tahun yang ganjil ini.
 
Pada awal tahun masih kukagumi Januari dan Februari sebagaimana biasa, tapi bulan demi bulan berlalu dan genangan air mulai terbentuk di sudut-sudut kota, bantaran sungai, bahkan hingga di tengah kota. Kendaraan-kendaraan seperti berenang akibat banjir. Kini hujan bukan lagi sekadar gerimis yang menggemaskan bagai kanak-kanak, melainkan berupa curahan air terjun disertai petir dan angin ribut.
Sepanjang hari langit gelap dan mendung selalu mengurung berupa gumpalan-gumpalan hitam yang menakutkan. Aku tidak lagi berminat keluar rumah apabila hujan mulai tercurah. Yang kulakukan hanya duduk mematung di sisi jendela sambil membayangkan masa lalu yang tidak akan kembali. Walaupun demikian, aku tidak ingin berubah pikiran hanya karena perubahan iklim. Aku ingin mengenang hujan yang indah dalam benakku.
Tiba-tiba, petir membahana. Jantungku nyaris copot. Lantas atap berderak diterpa angin.
”Pakai mantel ini, Kek,” bisik cucuku dengan lembut. Senyumnya teduh. Sebentar lagi dia akan menikah. Alangkah cepat waktu berlalu. Kurasakan kantong mataku memberat.
Ketika mantel yang tebal dan lembut menyentuh kulitku, barulah aku menyadari bahwa aku menggigil.
Post a Comment

Mau buat buku tamu ini ?
Klik di sini

Artikel Menarik Lainnya

Copyright © 2017 | Designed By Afif Ma'ruf Yulfriza