MENAMBAH WAWASAN, SEBAGAI SARANA PENDIDIKAN TANPA MENGHILANGKAN HIBURAN


Breaking News

Wednesday, 1 February 2017

Orang Pintar Kalah dengan yang Bekerja Keras


Kata-kata motivasi om Bob Sadino terngiang-ngiang di pikiranku. Mengapa tidak? Di tengah hiruk-pikuk perkembangan zaman mulai memudarkan semangat pemuda untuk belajar dan bekerja keras sesuai dengan janji siswa yang diucapkan setiap hari senin yaitu upacara bendera merah putih pada masa SD/SMP/SMA/SMK , karena saat ini berhamburannya nilai yang diberikan oleh masing-masing Dosen . Dengan mudah dosen dapat memberikan nilai yang bagus kepada mahasiswanya untuk setiap mata kuliah. Tidak usah muluk-muluk kenyataannya saja, mahasiswa yang memperoleh Indeks Prestasi Kumulatif diatas 3,5 pada kebanyakan fakultas di PTN maupun PTS jarang sekali kemampuan atau kualitasnya sebanding dengan IPK yang dimiliki. Karena, sebagian besar mahasiswa kuliah hanya memikirkan bagaimana memperoleh IP yang tinggi. Dipikiran mereka hanya IP tinggi dan saat wisuda kelak nama dan gelar sarjana nya akan dipanggil lebih dulu karena memperoleh IPK tertinggi (cum loude).
Memang benar, perusahaan lebih memprioritaskan pelamar yang mengajukan berkas lamaran dengan ijazah S1/S2 yang memiliki IPK tinggi. Namun, setelah itu pasti ada tes-tes yang harus dicapai oleh pelamar untuk mendapatkan pekerjaan yang diinginkan. Jika pelamar tidak dapat memenuhi klasifikasi softskill/hardskill yang memadai untuk kebutuhan perusahaan, maka pelamar akan ditolak untuk bekerja di perusahaan tersebut. Alhasil ijazah S1/S2 yang dibangga-banggakan karena cumloude menjadi sia-sia karena tidak diimbangi dengan kemampuan dan kecerdasan yang dimiliki si pelamar. Oleh karena itu pelamar tidak mendapatkan pekerjaan di perusahaan manapun dan mau tidak mau pelamar akan membuka usaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Belum lagi bagaimana jika dihitung dari berapa lama ia kuliah, menghabiskan biaya, bergelut dengan tugas-tugas yang hanya mengandalkan copy paste lalu persentasi, menghabiskan waktu yang seharusnya bisa dipakai untuk memperoleh uang dan karena kuliah malah mengahabiskan uang, bertemu dengan dosen killer, beradaptasi dengan lingkungan yang menurutnya itu tidak sesuai dengan pribadinya, organisasi, seminar, komunitas. Waktu 4 -6 tahun habis untuk mengejar gelar, haus akan gelar, lapar akan gelar, bukan lapar akan ilmu pengetahuan dan pengalaman. Waktu terus berjalan, pagi berubah menjadi petang, lalu senja, lalu malam, gelap, malam dan kembali pagi.
Sayang, kita tidak mempunyai kantong doraemon yang bisa kembali ke pintu mana saja terutama pintu masa lalu. Hanya dapat menjalani dan memanfaatkan waktu sebaik-
baiknya untuk masa depan. Baiklah guys, nampaknya tulisan ini sudah terlalu drama, kita kembali pada janji siswa, yaitu belajar keras dan bekerja keras untuk meningkatkan ketaqwaan terhadap tuhan yang maha esa. Apakah kita hanya cukup belajar keras, atau kita tidak perlu belajar tetapi cukup bekerja keras. Isi janji siswa yang kedua tersebut jika dikupas dengan lengkap, tanpa kita sadari makna nya begitu dalam ya. Karena tujuan nya untuk taqwa terhadap sang pencipta. Bagaimana kita bisa menunjukkan kalau kita taqwa kepada sang pencipta, jika kita tidak mensejahterakan atau memuliakan diri kita sendiri. Kalau kita sudah memuliakan diri kita sendiri maka Tuhan juga akan memuliakan kita. Sebab anggota tubuh yang sempurna dan saat ini sedang kita gunakan, merupakan milik sang pencipta. Pasti sobat tau maksudnya.
Jawaban dari pertanyaan manakah yang harus kita priortaskan, belajar keras atau bekerja keras. Contoh jika kita hanya mengandalkan belajar keras. Belajar, belajar, untuk menjadi orang pintar, dalam kenyataannya orang pintar kebanyakan pintar mengemukakan teori, pintar dalam merencanakan suatu bisnis, pintar dalam mengasumsikan hal-hal yang belum pasti terjadi, pintar menganalisis bisnis. Tetapi, jika kita lihat dengan kasat mata bahwa orang pintar sulit untuk mempraktekkan teori, rencana, analisis dan segala hal yang belum dilakukan di lapangan. Orang pintar tersebut merasa takut. Takut akan gagal, karena sebelumnya ia telah merencanakan bagaimana jika usaha yang dilakoninya gagal, bagaimana jika usaha bangkrut, dari gambaran tersebut kita bisa menyatakan bahwa orang pintar dengan segudang teorinya akan terpuruk dengan drama yang diciptakan sendiri. Karena terlalu banyak asumsi dan analisis tidak bagus untuk menjalankan suatu usaha. Sebab akan memunculkan banyak pikiran negatif.
Kemudian contoh kedua, yaitu hanya mengandalkan bekerja keras. Seseorang yang tidak memiliki pengetahuan yang lebih tentang bisnis ataupun usaha, tidak pandai menganalisis, tidak mampu berencana, kebanyakan seseorang yang tidak peduli tentang hal-hal negatif yang akan menimpa bisnisnya. Ia hanya terus berjalan menjalankan usahanya, karena hanya itulah yang ia miliki, karena hanya satu maka fokuslah orang tersebut menjalani bisnisnya. Ia tidak takut rugi, karena baginya untuk memulai bisnis harus ada rugi kemudian setelah itu akan mendapatkan laba. Bagi mereka kritikan konsumen dipelajari, dari konsumen lah mereka belajar, bukan dari teori. Mereka langsung merasakan perihnya langsung terjun ke lapangan.
Namun bukan berarti bekerja keras saja sudah cukup, usaha tersebut juga harus dilengkapi dengan doa dan ikhtiar. Bekerja keras saja belum cukup sebab perlu ditambah sedikit bekerja cerdas.

Post a Comment

Mau buat buku tamu ini ?
Klik di sini

Artikel Menarik Lainnya

Copyright © 2017 | Designed By Afif Ma'ruf Yulfriza