MENAMBAH WAWASAN, SEBAGAI SARANA PENDIDIKAN TANPA MENGHILANGKAN HIBURAN


Breaking News
Showing posts with label Makalah. Show all posts
Showing posts with label Makalah. Show all posts

Tuesday, 21 March 2017

Format Cover CBR Ilmu Konsturks Bangunan Teknik Sipil UNIMED 2016

Langsung aja berikut ini adalah link download untuk cover CBR Ilmu Konstruksi Bangunan Teknik Sipil Universitas Negeri Medan, Cekidotttt:
https://drive.google.com/file/d/0B_toC-Jezbz0SXFpLTd3Q2NZbFRGMzNmM3FJUmY5ZEtudlFn/view?usp=sharing

Berikut ini adalah hasil review dari format CBR IKB
Read more ...

Sunday, 19 February 2017

Soal Mekanika Tanah



 “MEKANIKA TANAH”



OLEH :


NAMA  : Afif Ma’ruf Yulfriza  
NIM       : 5162210002
KELAS : Teknik Sipil Reg A Nondik





 Hasil gambar untuk unimed
 





FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK BANGUNAN
PRODI D3 TEKNIK SIPIL
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2016
Read more ...

Wednesday, 1 February 2017

PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI BANGSA DAN NEGARA



PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI BANGSA DAN NEGARA

Dosen Pengampu : Arfan Adha Lubis, S.H, M.H
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Pada Matakuliah Pancasila


Oleh :
Kelompok VI
1.     Afif Ma’ruf Yulfriza   (Moderator)
2.     Bambang Irawan         (Pembahas I)
3.   Maslan Harahap           (Pembahas II)
4.   Syaiful Khahar             (Penyaji II)
5.     Andri Al Aziz            (Penyaji II)
6.     Wilson Siregar          (Penyaji III)












SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN KOMPUTER
LOGIKA
MEDAN 2016/2017


KATA PENGANTAR


Puji  syukur  Alhamdulillah  kami  panjatkan  kehadirat  Allah  Swt.  Yang  telah  memberikan banyak nikmatnya kepada kami. Sehingga kami mampu menyelesaikan  Tugas  Pancasila ini dalam rangka memenuhi mata kuliah Pancasila.   Pembuatan Tugas ini mengkaji materi Pancasila dari berbagai referensi dan web internet yang  membahas          mengenai   “Pancasila Sebagai Ideologi Bangsa Dan Negara” .       Kami      gunakan        metode  pengumpulan  data  ini,  agar  Tugas  yang  kami  susun  dapat  memberikan  informasi  yang akurat. 

Kami  sebagai  penyusun  pastinya  tidak  pernah  lepas  dari  kesalahan.  Begi tu  pula  dalam penyusunan Tugas ini, yang mempunyai banyak kekurangan. Oleh karena itu,  kami mohon maaf atas segala kekurangannya. 

Kami ucapkan terima kasih kepada Bapak Arfan Adha Lubis, S.H, M.H sebagai Dosen Pengampu  mata  kuliah  Pancasila  yang  telah  membimbing  kami  dalam  penyusunan  makalah  ini.tidak  lupa  pula  kepada  rekan    rekan  yang  telah  ikut  berpartisipasi.  Sehingga makalah ini selesai tepat pada waktunya. 

                                                                                          Medan, 09 Januari 2017 

                                                                                                      Penyusun 


                                                                                                    Kelompok VI
DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR..............................................................................i
DAFTAR ISI............................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN.........................................................................1
A.   Latar Belakang...............................................................................1
B.   Rumusan Masalah.........................................................................2
BAB II ARTI PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI BANGASA
             DAN NEGARA INDONESIA....................................................3
BAB III PERJALANAN PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI
               DARI MASA KE MASA........................................................11
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN...............................................16
A.   Kesimpulan ..................................................................................16
B.   Saran ............................................................................................16


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Indonesia sebagai negara yang mempunyai dasar Negara yaitu pancasila yang memiliki  sebuah arti penting memiliki ideologi. Setiap bangsa dan negara ingin berdiri kokoh, tidak mudah terombang-ambing oleh kerasnya persoalan hidup berbangsa dan bernegara.Tidak terkecuali negara Indonesia. Negara yang ingin berdiri kokoh dan kuat, perlu memiliki ideologi negara yang kokoh dan kuat pula. Tanpa itu, maka bangsa dan negara akan rapuh. Di era yang serba modern ini, makna pancasila sebagai ideologi bangsa dan negara Indonesia sedikit dilupakan oleh sebagian rakyat Indonesia dan digantikan oleh perkembangan tekhnologi yang sangat canggih. Padahal sejarah perumusan Pancasila melalui proses yang sangat panjang dan rumit. Pancasila merupakan kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, karena dalam masing-masing sila tidak bisa di tukar tempat atau dipindah. Bagi bangsa Indonesia, pancasila merupakan  pandangan hidup bangsa dan negara Indonesia. Mempelajari Pancasila lebih dalam menjadikan kita sadar sebagai bangsa Indonesia yang memiliki jati diri dan harus diwijudkan dalam pergaulan hidup sehari-hari untuk menunjukkan identitas bangsa yang lebih bermatabat dan berbudaya tinggi. Untuk itulah diharapkan dapat menjelaskan Pancasila sebagai ideologi negara, menguraikan nilai-nilai Pancasila sebagai ideologi negara dan karakteristik Pancasila sebagai ideologi negara.


Pengetahuan ideologi mempunyai arti tentang gagasan-gagasan. Ideologi secara fungsional merupakan seperangkat gagasan tentang kebaikan bersama atau tentang masyarakat dan negara yang dianggap baik. Ciri-ciri ideologi pancasila merupakan ideologi yang membedakan dengan ideologi yang lainnya. Ciri-ciri tersebut yang pertama adalah Tuhan Yang Maha Esa yang berarti pengakuan bangsa Indonesia terhadap Tuhan sebagai pencipta dunia dengan segala isinya.Kedua adalah penghargaan kepada sesama umat manusia, suku bangsa dan bahasanya sesuai dengan Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Ketiga adalah bangsa Indonesia menjunjung tinggi persatuan bangsa, keempat adalah bahwa kehidupan kita dalam kemasyarakatan dan bernegara berdasarkan atas sistem demokrasi. Makalah ini juga dapat dijadikan bekal keterampilan agar dapat menganalisis dan bersikap kristis terhadap para petinggi negara yang menyimpang dari Ideologi bangsa dan negara Indonesia.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa arti Pancasila sebagai Ideologi bangasa dan Negara Indonesia?
2.      Bagaimana Perjalanan Pancasila Sebagai Ideologi dari Masa ke Masa?


BAB II
ARTI PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI BANGASA
DAN NEGARA INDONESIA
A.    Pengertian Ideologi
Pengertian Ideologi - Ideologi berasal dari kata yunani yaitu iden yang berarti melihat, atau idea yang berarti raut muka, perawakan, gagasan buah pikiran dan kata logi yang berarti ajaran. Dengan demikian ideologi adalah ajaran atau ilmu tentang gagasan dan buah pikiran atau science des ideas (AL-Marsudi, 2001:57).[1]
Puspowardoyo (1992) menyebutkan bahwa ideologi dapat dirumuskan sebagai komplek pengetahuan dan nilai secara keseluruhan menjadi landasan seseorang atau masyarakat untuk memahami jagat raya dan bumi seisinya serta menentukan sikap dasar untuk mengolahnya. Berdasarkan pemahaman yang dihayatinya seseorang dapat menangkap apa yang dilihat benar dan tidak benar, serta apa yang dinilai baik dan tidak baik.
Sehingga dalam Konteks definisi ideologi inilah tanpa memandang sumber dari konsepsi Ideologi, maka Islam adalah agama yang mempunyai kualifikasi sebagai Ideologi dengan padanan dari arti kata Mabda’ dalam konteks bahasa arab.


Apabila kita telusuri seluruh dunia ini, maka yang kita dapati hanya ada tiga ideologi (mabda’). Yaitu Kapitalisme, Sosialisme termasuk Komunisme, dan Islam. Untuk saat ini dua mabda pertama, masing-masing diemban oleh satu atau beberapa negara. Sedangkan mabda yang ketiga yaitu Islam, saat ini tidak diemban oleh satu negarapun, melainkan diemban oleh individu-individu dalam masyarakat. Sekalipun demikian, mabda ini tetap ada di seluruh penjuru dunia.
Sumber konsepsi ideologi kapitalisme dan Sosialisme berasal dari buatan akal manusia, sedangkan Islam berasal dari wahyu Allah SWT (hukum syara’).
Puspowardoyo :
Menyebutkan bahwa ideologi dapat dirumuskan sebagai komplek pengetahuan dan nilai secara keseluruhan menjadi landasan seseorang atau masyarakat untuk memahami jagat raya dan bumi seisinya serta menentukan sikap dasar untuk mengolahnya. Berdasarkan pemahaman yang dihayatinya seseorang dapat menangkap apa yang dilihat benar dan tidak benar, serta apa yang dinilai baik dan tidak baik.
Harol H. Titus :
      Ideologi adalah  suatu istilah yang digunakan untuk sekelompok cita-cita mengenai bebagai macam masalah politik ekonomi filsafat sosial yang sering dilaksanakan bagi suatu rencana yang sistematis tentang suatu cita-cita yang dijalankan oleh kelompok atau lapisan masyarakat.
Karl Marx
      Mengartikan Ideologi sebagai pandangan hidup yang dikembangkan berdasarkan kepenti-ngan golongan atau kelas sosial tertentu dalam bidang politik atau sosial ekonomi.
Kamus Bahasa Indonesia ,319 Ideologi adalah kumpulan konsep bersistem yang dijadikan asas pendapat (kejadian) yang memberikan arah dan tujuan untuk kelangsungan hidup. Atau cara berfikir seseorang atau suatu gagasan.[2]
           Pengertian ideologi secara umum dapat dikatakan sebagai kumpulan gagasan, idea, keyakinan, kepercayaan, yang menyeluruh dan sistematis, yang menyangkut:
a.       Bidang Politik (termasuk Pertahanan dan Keamanan)
b.      Bidang Sosial
c.       Bidang Kebudayaan
d.      Bidang Keagamaan





1.      Pengertian Pancasila sebagai Ideologi bangsa dan Negara
Pancasila sebagai ideologi bangsa dan negara Indonesia yang tak lain adalah ideologi terbuka.  Pancasila sebagai ideologi terbuka artinya nilai-nilai dasar Pancasila bersifat tetap, namun dapat dijabarkan menjadi nilai instrumental yang berubah dan berkembang secara dinamis dan kreatif sesuai dengan kebutuhan perkembangan masyarakat Indonesia .
Tatanan nilai mempunyai tiga tingkatan fleksibelitas ideology pancasila mengandung nilai-nilai sebagai berikut :
a. Nilai Dasar
b. Nilai Instrumental
c. Nilai Praktis
Menurut Alfian, kekutan suatu ideology tergantung pada 3 dimensi yang terkandung di dalamnya yaitu sebagai berikut :
a. Dimensi Realitas
b. Dimensi idealis
c. Dimensi fleksibel 






2.      Arti pancasila sebagai Ideologi bangasa dan Negara Indonesia
Pengertian Ideologi - Ideologi berasal dari kata yunani yaitu iden yang berarti melihat, atau idea yang berarti raut muka, perawakan, gagasan buah pikiran dan kata logi yang berarti ajaran. Dengan demikian ideologi adalah ajaran atau ilmu tentang gagasan dan buah pikiran atau science des ideas (AL-Marsudi, 2001:57).[3]
Puspowardoyo (1992 menyebutkan bahwa ideologi dapat dirumuskan sebagai komplek pengetahuan dan nilai secara keseluruhan menjadi landasan seseorang atau masyarakat untuk memahami jagat raya dan bumi seisinya serta menentukan sikap dasar untuk mengolahnya. Berdasarkan pemahaman yang dihayatinya seseorang dapat menangkap apa yang dilihat benar dan tidak benar, serta apa yang dinilai baik dan tidak baik.[4]
Menurut pendapat Harol H. Titus. Definisi dari ideologi adalah: suatu istilah yang digunakan untuk sekelompok cita-cita mengenai bebagai macam masalah politik ekonomi filsafat sosial yang sering dilaksanakan bagi suatu rencana yang sistematis tentang suatu cita-cita yang dijalankan oleh kelompok atau lapisan masyarakat.
Bila kita terapkan rumusan ini pada Pancasila dengan definisi-definisi filsafat dapat kita simpulkan, maka Pancasila itu ialah usaha pemikiran manusia Indonesia untuk mencari kebenaran, kemudian sampai mendekati atau menanggap sebagai suatu kesanggupan yang digenggamnya seirama dengan ruang dan waktu.
Hasil pemikiran manusia yang sungguh-sungguh secara sistematis radikal itu kemuduian dituangkan dalam suatu rumusan rangkaian kalimat yang mengandung suatu pemikiran yang bermakna bulat dan utuh untuk dijadikan dasar, asas, pedoman atau norma hidup dan kehidupan bersama dalam rangka perumusan satu negara Indonesia merdeka, yang diberi nama Pancasila.
Kemudian isi rumusan filsafat yang dinami Pancasila itu kemudian diberi status atau kedudukan yang tegas dan jelas serta sistematis dan memenuhi persyaratan sebagai suatu sistem filsafat. Termaktub dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alinea ke empat maka filsafat Pancasila itu berfungsi sebagai Dasar Negara Republik Indonesia yang diterima dan didukung oleh seluruh bangsa atau warga Negara Indonesia.
Demikian isi rumusan sila-sila dari Pancasila sebagai satu rangkaian kesatuan yang bulat dan utuh merupakan dasar hukum, dasar moral, kaidah fundamental bagi peri kehidupan bernegara dan masyarakat Indonesia dari pusat sampai ke daerah-daerah.
Sebagai ideologi suatu bangsa yang menjadi pandangan dan pegangan hidup masyarakatnya, Pancasila haruslah bersifat universal mencakup segala macam nilai-nilai sosial dan budaya Indonesia serta menjadi orientasi dalam hidup oleh seluruh masyarakatnya. Sebagai ideologi bangsa, maka keberadaannya  selalu diimplementasikan ke dalam perilaku kehidupan dalam rangka berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Kalau dikaji dari butir-butir kelima sila dalam ideologi Pancasila tersebut, sebenarnya sudah mencakup gambaran pembentukan karakter manusia Indonesia yang ideal, sebagai mana yang diharapkan para penggali dari pancasila itu sendiri. Gambaran pembentukan manusia Indonesia seutuhnya itu, dapat diilustrasikan  Pada sila pertama tersirat bagaimana manusia Indonesia berhubungan dengan Tuhannya atau kepercayaannya. Pada sila kedua tergambar bagaimana manusia Indonesia harus bersikap hidup dengan orang lain sebagaimana layaknya manusia yang punya pikiran dan ahklak hingga dia bisa bersikap sebagai mahkluk yang tertinggi dibandingkan dengan mahkluk lainnya yaitu binatang. Sila ketiga menerangkan bagaiama manusia Indonesia menciptakan suatu pandangan betapa pentingnya arti persatuan dan kesatuan bangsa dari pada bercerai berai seperti pada pepatah bersatu kita teguh dan bercerai kita runtuh.  Sila keempat telah menegaskan bagaimana manusia Indonesia mengimplementasikan cara bersikap dan berpendapat serta memutuskan sesuatu menyangkut kepentingan umum secara bijak demi kelangsungan kehidupan berdemokrasi yang  terlindungi antara menyuarakan hak dan kewajibannya berimbang dalam mengimplementasikannya. 
Pada sila kelima dijabarkan bagaimana manusia Indonesia mewujudkan suatu keadilan dan kemakmuran bagi seluruh masyarakat Indonesia itu sendiri. Dari penjabaran kelima sila tersebut di atas, maka sudah sepantasnya bahwa Pancasila beserta kelima silanya itu layak dijadikan sebagai pandangan dan pegangan hidup serta dijadikan sebagai pembimbing dalam menciptakan kerangka berpikir untuk menjalankan roda demokratisasi dan diimplementasikan dalam segala macam praktik kehidupan menyangkut berbangsa, bernegara dan bermasyarakat di dalam Negara kesatuan Republik Indonesia tercinta ini.maka mengamalkan dan mengamankan Pancasila sebagai dasar Negara mempunyai sifat imperatif dan memaksa, artinya setiap warga Negara Indonesia harus tunduk dan taat kepadanya. Siapa saja yang melangggar Pancasila sebagai dasar Negara, harus ditindak menurut hukum yakni hukum yang berlaku di Indonesia. Dengan kata lain pengamalan Pancasila sebagai dasar Negara disertai sanksi-sanksi hukum. Sedangkan pengamalan Pancasila sebagai weltanschuung, yaitu pelaksanaan Pancasila dalam hidup sehari-hari tidak disertai sanksi-sanksi hukum tetapi mempunyai sifat mengikat, artinya setiap manusia Indonesia terikat dengan cita-cita yang terkandung di dalamnya untuk mewujudkan dalam hidup dan kehidupanya, sepanjang tidak melanggar peraturan perundang-undangan yang barlaku di Indonesia.
Jadi, jelaslah bagi kita bahwa mengamalkan dan mengamankan Pancasila sebagai dasar Negara Republik Indonesia mempunyai sifat imperatif memaksa. Sedangkan pengamalan atau pelaksanaan Pancasila sebagai pandangan hidup dalam hidup sehari-hari tidak disertai sanksi-sanksi hukum tetapi mempunyai sifat mengikat.
Pancasila sebagai filsafat bangsa dan Negara dihubungkan fungsinya sebagai dasar Negara, yang merupakan landasan idiil bangsa Indonesia dan Negara Republik Indonesia dapatlah disebut pula sebagai ideologi nasional atau ideologi Negara.


BAB III
PERJALANAN PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI DARI MASA KE MASA
A.                Pada Sidang BPUPKI
            Berawal dari sidang pleno BPUPKI pertama yang diadakan pada tanggal 28 Mei 1945 hingga 1 Juni 1945. Ketika itu, dr. Radjiman Widyodiningrat dalam pidato pembukaannya selaku ketua BPUPKI mengajukan pertanyaan kepada seluruh anggota sidang mengenai dasar negara apa yang akan dibentuk untuk Indonesia. Pertanyaan ini menjadi persoalan paling dominan sepanjang 29 Mei-1 Juni 1945 dan memunculkan sejumlah pembicara yang mengajukan gagasan mereka mengenai dasar filosofis Indonesia.
Pada tanggal 1 Juni 1945, secara eksplisit Ir. Soekarno mengemukakan gagasannya mengenai dasar negara Indonesia dalam pidatonya yang berjudul “Lahirnya Pancasila”. Menurut Drs. Mohammad Hatta, pidato tersebut bersifat kompromis dan dapat meneduhkan pertentangan tajam antara pendapat yang mempertahankan Negara Islam dan mereka yang menghendaki dasar negara sekuler. Perdebatan tersebut pada akhirnya dimenangkan kelompok yang menginginkan Islam sebagai dasar negara, terbukti dengan dikeluarkannya Piagam Jakarta pada tanggal 22 Juni 1945.


Namun, dalam perkembangan selanjutnya, ternyata beberapa rumusan Piagam Jakarta diganti dan menimbulkan kekecewaan umat Islam terhadap pemerintahan Soekarno dan Mohammad Hatta dan terus berkembang hingga masa pemerintahan Soeharto, sampai-sampai Carol Gluck mengatakan bahwa Indonesia adalah negara yang terlalu banyak meributkan masalah ideologi dibandingkan negara-negara lain. Melihat pada perkembangan perumusan Pancasila sejak 1 Juni sampai 18 Agustus 1945, dapat diketahui bahwa Pancasila mengalami perkembangan fungsi. Pada tanggal 1 dan 22 Juni, Pancasila yang dirumuskan Panitia Sembilan dan disepakati oleh Sidang Pleno BPUPKI merupakan modus kompromi antara kelompok yang memperjuangkan dasar negara nasionalisme dan kelompok yang memperjuangkan dasar negara Islam. Akan tetapi, pada tanggal 18 Agustus 1945 Pancasila yang dirumuskan kembali oleh PPKI berkembang menjadi kompromi antara kaum nasionalis, Islam dan Kristen-Katolik dalam hidup bernegara.

B.                 Pada  Era Orde Lama
Pada era Orde Lama, dinamika perdebatan ideologi paling sering dibicarakan oleh kebanyakan orang. Tampak ketika akhir tahun 1950-an, Pancasila sudah bukan lagi merupakan kompromi atau titik temu bagi semua ideologi. Dikarenakan Pancasila telah dimanfaatkan sebagai senjata ideologis untuk melegitimasi tuntutan Islam bagi pengakuan negara atas Islam yang kemudian pada rentang tahun 1948-1962 terjadi pemberontakan Darul Islam terhadap pemerintah pusat. Setelah pemberontakan berhasil ditumpas, atas desakan AH Nasution, selaku Pangkostrad dan kepala staf AD, pada 5 Juli 1959 Ir. Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden untuk kembali pada UUD 1945 sebagai satu-satunya konstitusi legal Republik Indonesia dan pemerintahannya dinamai dengan Demokrasi Terpimpin.
Pada masa Demokrasi Terpimpin pun ternyata tidak semulus yang diharapkan. Periode labil ini justru telah membubarkan partai Islam terbesar, Masyumi, karena dianggap ikut andil dalam pemberontakan regional berideologi Islam. Bahkan, Soekarno membatasi kekuasaan partai politik yang ada serta mengusulkan agar rakyat menolak partai-partai politik karena mereka menentang konsep musyawarah dan mufakat yang terkandung dalam Pancasila. Soekarno juga menganjurkan sebuah konsep yang dikenal dengan NASAKOM yang berarti persatuan antara nasionalisme, agama dan komunisme. Kepentingan politis dan ideologis yang saling bertentangan menimbulkan struktur politik yang sangat labil sampai pada akhirnya melahirkan peristiwa G 30S/PKI yang berakhir pada runtuhnya kekuasaan Orde Lama.


C.                Pada  Era Orde Baru
Selanjutnya pada masa Orde Baru, Soeharto berusaha meyakinkan bahwa rezim baru adalah pewaris sah dan konstitusional dari presiden pertama. Soeharto mengambil Pancasila sebagai dasar negara dan ini merupakan cara yang paling tepat untuk melegitimasi kekuasaannya. Berbagai bentuk perdebatan ternyata tidak semakin membuat stabilitas negara berjalan dengan baik, tetapi justru struktur politik labil yang semakin mengedepan dikarenakan Soeharto seringkali mengulang pernyataan tegas bahwa perjuangan Orde Baru hanyalah untuk melaksanakan Pancasila secara murni dan konsekuen, yang berarti bahwa tidak boleh ada yang menafsirkan resmi tentang Pancasila kecuali dari pemerintah yang berkuasa.

D.                Pada  Era Reformasi
Pada masa reformasi (setelah rezim Soeharto runtuh), seolah menandai adanya jaman baru bagi perkembangan perpolitikan nasional sebagai anti-tesis dari Orde Baru yang dianggap menindas dengan konfrimitas ideologinya. Pada era ini timbul keingingan untuk membentuk masyarakat sipil yang demokratis dan berkeadilan sosial tanpa kooptasi penuh dari negara. Lepas kendalinya masyarakat seolah menjadi fenomena awal dari tragedi besar dan konflik berkepanjangan. Tampaknya era ini mengulang problem perdebatan ideologi yang terjadi pada masa Orde Lama, Orde Baru, yang berakhir dengan instabilitas politik dan perekonomian secara mendasar. Berbagai bentuk interpretasi monolitik selama ini cenderung mengaburkan dan menguburkan makna substansial Pancasila dan berakibat pada Pancasila yang menjadi sebuah mitos, selalu dipahami secara politis-ideologis untuk kepentingan kekuasaan serta nilai-nilai dasar Pancasila menjadi nilai yang distopia, bukan sekedar utopia.


BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
A.    Kesimpulan
Pancasila sebagai Ideologi bangsa dan negara Indonesia itu sangat penting.Karena Ideologi    merupakan alat yang paling ampuh untuk menciptakan negara Indonesia yang kokoh, bermartabat dan berbudaya tinggi.
Tanpa Ideologi bangsa akan rapuh dan hilang jati dirinya.  Indonesia mempunyai Ideologi Pancasila diharapkan  mampu untuk membawa bangsa Indonesia menjadi bangsa yang lebih bagus dari sekarang.  Ideologi juga diharapkan mampu untuk membangkitkan kesadaran bangsa. Setiap pengambilan keputusan harus berdasarkan ideologi negara Indonesia yaitu Pancasila. Supaya dalam pengambilan keputusan keputusan tidak keluar dari aturan dan kaidah negara Indonesia.

B.     Saran
Warganegara Indonesia merupakan sekumpulan orang yang hidup dan tinggal di negara Indonesia Oleh karena itu sebaiknya warga negara Indonesia harus lebih meyakini atau mempercayai, menghormati, menghargai menjaga, memahami dan melaksanakan segala hal yang telah dilakukan oleh para pahlawan.


DAFTAR PUSTAKA
A.    BUKU
1.      Al Marsudi, 2001, Pancasila dan UUD 45 dalam Paradigma Reformasi, Jakarta, Binaa Aksara.
2.      Kamus Bahasa Indonesia
3.      Puspowardoyo 1992

B.     UNDANG-UNDANG
1.      UUD 1945

C.    INTERNET
1.      http://wittalistiya.blogspot.com/2011/04/pancasila-sebagai-ideologi-bangsa-dan.html
2.      http://suhardiman2.blogspot.com/2011/11/fungsi-pokok-pancasila-sebagai-dasar.html
3.      http://pancasila.univpancasila.ac.id/?p=343
4.      http://smpn1ciemas.sch.id/materi/40-pendidikan-kewarganegaraan/107-nilai-nilai-pancasila-sebagai-ideologi.html


[1] Al Marsudi, 2001:57, Pancasila dan UUD 45 dalam Paradigma Reformasi
[2] Kamus Bahasa Indonesia ,319
[3] Al Marsudi, 2001:57, Pancasila dan UUD 45 dalam Paradigma Reformasi,
[4] Puspowardoyo 1992
Read more ...

CRITICAL BOOK REPORT KEPEMIMPINAN



TUGAS INDIVIDU
CRITICAL BOOK REPORT
KEPEMIMPINAN
Dosen Drs.Asri Lubis, S.T.,M.Pd.


Penulis :
AFIF MA’RUF YULFRIZA  
5162210002
KELAS REGULER A



             Hasil gambar untuk unimed
 









FAKULTAS TEKNIK
PRODI D3 TEKNIK SIPIL
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
TA 2016- 2017


BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Keberhasilan atau kegagalan suatu perusahaan maupun organisasi sebagian besar ditentukan oleh kepemimpinan. Kepemimpinan seseorang dapat dilihat dari sudut mana saja dan adanya keterbatasan dan kelebihan tertentu pada manusia untuk memimpin. Dalam buku ini akan membahas kepemimpinan dari sudut pandang perilaku dan melihat hubungan kepemimpinan dengan kekuasaan yang merupakan salah satu unsur dalam kehidupan manusia. Ada pendapat keras yang mengatakan bahwa “dunia atau umat manusia di dunia ini pada hakikatnya hanya ditentukan oleh beberapa orang saja, yakni yang berstatus sebagai pemimpin.” George R. Terry merumuskan kepimpinan itu dalah aktivitas untuk mempengaruhi orang-orang supaya diarahkan mencapai tujuan organisasi. Kepemimpinan sering kali disamakan dengan manajemen, dimana konsep kepemimpinan sangat dekat dengan konsep kekuasaan. Buku ini akan memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut.
B.     IDENTITAS BUKU

Buku I
Judul Buku            : Kepemimpinan dalam Manajemen
Nomor                   : ISBN 979-421-018-8
Pengarang                         : Miftah Thoha
Penerbit                 : Rajawali Pers
Tahun Terbit          : 2009
Edisi                      : 1
Tebal Buku            : 136 halaman
Bahasa Teks          : Bahasa Indonesia

Buku ini ditulis oleh Miftah Thoha, yang berjudul Kepemimpinan dan Manajemen yang untuk mengenang kepemimpinan kedua orngtuanya. Buku ini diterbitkan oleh Rajawali Pers, edisi revisi 2009, buku ini memiliki tebal 136 halaman dengan warna sampul kuning yang didesain oleh Expertoha Studio. Buku ini terdiri atas 9 BAB, masing – masing tiap bab membahas hal yang berbeda.




Buku II
Judul Buku                        : Leader yang Ship
Nomor                               :ISBN 979-9703-52-2
Pengarang                                     : Darmo Budi Suseno
Penerbit                             : Milestone
Tahun Terbit                      : 2009
Edisi                                  : 1
Tebal Buku                        : 128 halaman
Bahasa Teks                      : Bahasa Indonesia

Buku yang kedua ini karangan oleh Darmo Budi suseno yang berjudul Leader yang Ship, penerbit Milestone:2009. Untuk membuat ini perarang sebelumnya melakukan tugas praktiknya bersama mahasiswa Semarang yang merupakan mata kuliah softskills dan leadership yang untuk didiskusikan.  Isi buku ini terdiri dari dua bab saja yang memiliki banyak pembahasan di tiap point-pointnya, dimana:

















BAB II
RANGKUMAN
BUKU I:
Leadership dan Management
Perbedaan Leadership dan Manajement Manajer ialah orang yang akan memikirkan kegiatan untuk mencapai suatu tujuan organisasi yang memiliki batasan oleh tata karma birokrasi, kegiatan mencapai tujuan oleh kepemimpinan itu dapat dinamakan manajemen. Kepemimpinan merupakan kegiatan untuk mempengaruhi perilaku manusia baik perorangan ataupun kelompok yang tidak harus memiliki batasan oleh aturan-aturan terhadap organisasi. Peranan manajer Menurut Henry Mintzberg ada 3 peranan utama manajer yang harus dilakukan manajer atas, tengah dan bawah, antara lain:
1. Peranan hubungan antarpribadi
    a. Peranan sebagai figurehead
    b. Peranan sebagai pemimpin
    c. Peranan sebagai pejabat perantara
2. Peranan informasi
    a. Monitor
    b. Disseminator
    c. Juru bicara
3. Peranan pembuat keputusan
    a. Entrepreneur
    b. Penghalau gangguan
    c. Pembagi sumber
    d. Negosiator




Teori Teori Kepemimpinan
Teori sifat
Dalam teori ini terdapat empat sifat yang mempengaruhi keberhasilan dalam memimpin, yaitu:
1. kecerdasan
2. kedewasaan dan keluasan hubungan sosial
3. motivasi diri dan dorongan berprestasi
4. sikap-sikap hubungan kemanusiaan

Teori kelompok
Teori ini mengatakan menunjukan bahwa para bawahan dapat mempengaruhi pemimpinnya dan pemimpin dapat mempengaruhi para bawahannya. Teori sitiuasional dan model kontijensi Ada dua pengukuran yang saling berhubungan dengan kepemimpinan, yaitu:
1. hubungan kemanusiaan atau gaya yang lunak
2. gaya yang berorientasi tugas atau “hard nosed”. Menurut Fiedler gaya kepemimpinan yang dikombinasikan dengan situasi akan menentukan hasil dalam pelaksanaan kerja. Dimana situasi yang menyenangkan itu jika:
a. pemimpin diterima oleh para pengikutnya.
b. tugas-tugas dan semua yang berhubungan dengan ditentukan secara jelas.
c. penggunaan otoritas dan kekuasaan secara formal diterapkan pada posisi pemimpin.

Teori jalan kecil – tujuan
Teori ini menyimpulkan dimana pemimpin membuat jalan kecil pada para bawahannya untuk mencapai tujuan sebaik mungkin. Diagram: teori jalan kecil – tujuan Pendekatan social learning dalam kepemimpinan Antara pemimpin dan bawahan memiliki hubungan interaksi yang baik dalam menyelesaikan suatu perkara untuk menyempurkan perilaku masing-masing.




Gaya Kepemimpinan
Gaya kepemimpinan kontinum Ini merupakan cara yang klasik untuk mempengaruhi bawahan yang terdiri dari dua bidang yaitu pemimpin menggunakan otoritasnya dalam memimpin, yang kedua pemimpin menunjukan cara demokratisnya dengan menggunakan tujuh cara keputusan pemimpin:
1. Pemimpin membuat keputusan dan mengumumkannya.
2. Pemimpin menjual keputusan.
3. Pemimpin memberikan ide dan mengundang pertanyaan.
4. Pemimpin memberikan keputusan sementara yang bisa diubah.
5. Pemimpin memberikan persoalan, meminta saran-saran dan membuat keputusan.
6. Pemimpin merumuskan batas-batasnya, meminta pada kelompok untuk membuat keputusan.
7. Pimpinan mengizinkan bawahan untuk melakukan fungsi dalam batas-batas yang telah dirumuskan oleh atasan.

Gaya managerial grid
Dalam pendekatan ini pemimpin/manajer berhubungan dengan produksi dan orang-orang. Oleh karena itu ada beberapa cara kepemimpinannya:
1. Usaha manajemen yang paling rendah (minim) terhadap pekerjaan yang harus dikerjakan dan semangat kerja orang-orang yang bekerja.
2. Pencapaian kerja dalam manajemen adalah dari kepercayaan pada kemerdekaan orang-orang lewat penggunaan standar umum dalam organisasi yang berupa tujuan organisasi, dan dengan berdasarkan atas kepercayaan dan respek.
3. Manajemen yang penuh perhatian terhadap kebutuhan orang-orang dan memimpinnya ke suasana organisasi yang bersahabat, menyenangkan dan kecepatan kerja yang rileks.
4. Efisiensi hasil dari manajemen ini dicapai dari usaha menata kerja dalam cara tertentu dengan sedikit perhatiannya pada unsur manusia.
5. Pelaksanaan kerja manajemen secara memadai lewat keseimbangan kerja yang diharuskan tercapai dan peningkatan semangat kerja orang-orang yang memuaskan.
Tiga dimensi dari Reddin Cara ini merupakan cara pemimpin yang mempunyai pengaruh terhadap lingkungannya. Dimana cara dasar kepemimpinan seorang manajer yaitu berhubungan, terpadu, terpisah, dan pengabdian. Kemudian dapat menjadi cara yang efektif dan tidak efektif. Adapun cara yang efektif, yaitu:
1. Eksekutif.
2. Pencinta pengembangan.
3. Otokratis yang baik.
4. Birokrat.
Dan cara yang tidak efektif:
1. Pencinta kompromi.
2. Missionari.
3. Otokrat.
4. Lari dari tugas.
Empatsistem manajemen dari Likert Menurut Likert, pemimpin yang berhasil jika dengan cara participative management, dimana pemimpin berorientasi dengan para bawahan serta memiliki hubungan yang mendukung.

Kemimpinan Situasional
Gaya dasar kepemimpinan
Ada dua hal perilaku yang biasanya dilakukan pemimpin terhadap bawahannya, yakni: perilaku pengarahkan dan perilaku mendukung. Perilaku gaya dasar kepemimpinan dalam pengambilan keputusan Ketika pemimpin melakukan proses pemecahan suatu masalah dan membuat keputusan, maka ada empat gaya dasar kepemimpinan dalam proses pembuatan keputusan: instruksi, konsultasi, partisipasi, delegasi. Kematangan para pengikut Kemampuan merupakan salah satu unsure kematangan yang berhubungan dengan pengetahuan/keterampilan yang didapat dri pelatihan, pengalaman, dan pendidikan. Bagaimana cara mengetahui gaya kepemimpinan kita Di situsi apapun, seseorang dapat mempengaruhi orang lain maupun kelompok. Gaya kepemimpinan suatu perilaku yang konsisten akan terlihat dari bagaimana kita menunjukkan dan diketahui oleh pihak lain ketika kita mempengaruhi orang lain. Dengan demikian, kepemimpinan bis terjadi dimana-mana. Gaya kepemimpinan Gambaran diri atas kepemimpinan kita bisa saja merefleksi atau tidak merefleksi diri kita sebenarnya. Semua ini tergantung bagaimana dekatnya persepsi kita dengan persepsi orang lain. Penyesuaian gaya Seseorang pemimpin yang memiliki tingkat gaya yang besar, bisa tidak efektif kalau gaya perilakunya tidak sesuai dengan tuntutan situasi. Sebaliknya, jika pemimpin yang memiliki tingkat gaya yang sempit dapat dengan efektif jika berada disituasi yang memungkinkan gayanya sukses yang besar.


BUKU II
Sukses Memimpin Diri Sendiri
Analisa SWOT bagi diri sendiri SWOT, singkatan dari bahasa inggris Stengths(kekuatan), Weaknesses(kelemahan), Opportunities(peluang), dn Threats(ancaman). Yang bermanfaat untuk mengetahui dan memahami diri kita sendiri yang sebelumnya tidak kita ketahui dan kita rasakan dengan mempertimbangkan faktor-faktor eksternal.

Merancang kesuksesan dalam hidup
Apa itu sukses?
- Orang yang sukses bukan orang yang tidak pernah gagal.
- Orang yang sukses adalah mereka yang tak pernah berhenti mencoba dan bekerja.
- Semua orang pernah gagal, namun kita berhak untuk sukses.
- Persiapkan diri anda sebagai orang yang berhasil.

Cita-cita, goal dan visi
Cita-cita yang berarti keinginan yang selalu dalam pikiran untuk mencapainya dengan sungguh-sungguh. Goal berarti bagian dari keinginan yang disusun akan menjadi panjang. Visi yaitu suatu gambaran tentang keadaan kedepan yang diinginkan. Introspeksi diri dengan QBQ(the question behind the question) QBQ adalah tentang mengajukan pertanyaan yang lebih baik dimana merupakan suatu prinsip bila kita mengajukan pertanyaan yang lebih baik maka kita akan mendapatkan jawaban yang lebih bermutu.

Aturlah hidup anda dengan POAC
POAC singkatan dari planning, organizing, actualiting, dan controlling. Planning atau rencana yang bersifat rasional yang dibuat untuk dilaksanakan yang akan dating. Organizing yauitu struktur yang membagi bagi kegiatan atas bagian-bagian yang khusus serta untuk mempermudah pengawasan serta tidaka adanya kegiatan yang menumpuh sehingga kegiatan selesai sesuai rencana. Actualiting/penggerak suatu kegiatan untuk menciptakan sifat suka bekerja pada diri sendiri sekaligus untuk pelayanan kepada orang lain. Controlling atau pengawasan sebagai mencegah penyimpanan-penyimpanan ataupun kesalahan dan kelemahan dalam tindakan. Mengasah kecerdasan anda Kecerdasan ada 3:
1. Kecerdasan intelektual (IQ)
2. Kecerdasan emosional (EQ)
3. Kecerdasan spiritual (SQ)
Mengolah alam bawah sadar anda
Alam bawah sadar merupakan suatu pikiran mekanisme untuk mencapai tujuan otomatis . dan bawah sadar kita memang benar dikendalikan oleh pikiran sadar kita secara otomatis.

Memperkuat etos kerja
Jansen H. Sinamo menyebutkan delapan etos kerja professional, yaitu bekerja tanpa pamrih, berjiwa sukarela, rendah hati, berjiwa besar, bijaksana, lapang dada, tidak kikir, bahagia ketika member, dan senang ketika melayani.

Kemampuan motivasi diri
Motivasi yang merupakan dorongan pada diri seseorang untuk bertindak apa yang kita inginkan dengan apa yang kita hargai.

Jangan takut pasarkan diri anda sendiri
Menurut Hermawan Kartajaya bahwa strategi untuk memasarkan diri sendiri itu sama seperti perusahaan melakukan pemasarannya yang berdasarkan PDB(positioning, differentiation dan brand). Misalnya seseorang memiliki keahlian tertentu lantas dia tidak memperkenalkan dirinya sebagai ahli, mana ada orang yang tau bahwa dia adalah seorang ahli. Maka diri sendirilah yang akan memulainya.

Sang Pemimpin
Defenisi, tipe dan sifat seorang pemimpin
Seorang dapat dikatakan sebagai pemimpin adalah ketika dia dapat mempengruhi orang lain untuk bersama-sama mencapai suatu tujuan yang menjadi orientasi organisasi. Sebelum orang memimpin dalam lingkungan yang besar dia harus bisa memimpin dalam lingkungan kecil yaitu dirinya, keluarga, perusahaannya hingga Negara.
Tipe-tipe pemimpin:
1. Kepemimpinn direktif
2. Kepemimpinan suportif
3. Kepemimpinan partisipatif
4. Kepemimpinan orientasi-prestasi
Sifat seorang pemimpin:
1. Melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dilakukan
2. Optimisme
3. Ulet dan berani mengambil resiko
4. Menyukai perubahan serta mampu menggerakkan orang lain untuk melangkah
5. Berdedikasi atau komit Skill utama seorang pemimpin Banyak yang harus dikuasai seorang pemimpin, dimana pemimpin harus mampu memanajemen konflik masalah, harus dapat memunculkan solusi yang terbaik bagi organisasinya yang dapat menguntungkan bagi organisasinya. Dan bukan kaum minoritas dalam organisasi tersebut.

Meningkatkan kinerja staf atau anggota
Motivasi terhadap karyawan dan staf sangat diperlukan dalam memajukan suatu organisasi ataupun perusahaan. Banyak cara untuk memotivasi karyawan atau staf, tergantung pada kondisi perusahaan dan karyawan itu sendiri.

Membangun tim kerja yang efektif
Yang perlu diperhatikan dalam membangun tim, yaitu:
1. Memilih anggota tim yang terampil.
2. Dapat berkomunikasi dengan baik.
3. Dapat bekerja sama dengan anggota tim.
4. Dapat mengevaluasi terhadap proses yang telah terjadi.
Selain itu sebuah tim harus mempunyai rasa tanggung jawab, mampu bersikap terbuka, bersikap ramah dan bersahabat dengan anggota tim yang lain, mampu menjadi contoh bagi anggota tim yang lain, dan bersikap professional.

Mengatasi konflik dalam kepemimpinan
Konflik identik dengan suatu masalah, tikaian, dan perselisihan. Tidak mudah untuk menyelesaikan suatu masalah dalam konflik baik pribadi ataupun kelompok. Untuk menyelesaikan suatu masalah dalam konflik haruslah dengan adil, dimana dalam menyelesaikan konflik akan mengasilkan 3 strategi dasar yaitu:
1. Sama-sama rugi
2. Kalah menang
3. Sama-sama beruntung yang kadang tidak memiliki unsure keadilan




















BAB III
KRITIK DAN SARAN
A.    KELEBIHAN BUKU

Buku 1
• Isi buku memiliki banyak pengertian dari para-para pendapat.
• Penulis seakan-akan mengajak pembaca untuk ikut dalam keadaan yang sebenarnya.
• Setiap bab penulis membuat satu kesimpulannya yang dapat dimengerti.

Buku 2
• Menggunakan kata-kata yang sederhana untuk dimengerti di kalangan pelajar ...maupun dikalangan mahasiswa.
• Di setiap akhir sub-bagian penulis selalu membuat latihan-latihan untuk dipraktikan ...dalam kehidupan untuk menjadi pemimpin.
• Banyaknya kata-kata motivsi yang dibuat oleh penulis.
• Disetiap bagian penulis membuat inti sari dari tulisan tersebut.

B.     KEKURANGAN BUKU

Buku 1
• Terkadang ada kata-kata yang menggunakan istilah yang sulit untuk dipahami.
• Pengulangan informasi sering kali terjadi pada bab-bab berikutnya.

Buku 2
• Ringkasan buku lebih banyak membahas tentang materi-materi.
• Pengertian dari setiap kata banyak yang dibuat berulang-ulang, dan pengertiannya    ...itu banyak menggunakan kata-kata pemborosan.

C.     SARAN

Mungkin akan jauh lebih baik apabila mengunakan kata-kata yang sederhana mungkin guna mencapai pemahaman yang lebih.







BAB IV
KESIMPULAN

Kepemimpinan merupakan aktivitas untuk mempengaruhi orang lain agar mau diarahkan untuk memcapai suatu tujuan. Dimana cara seorang pemimpin itu juga merupakan hal yang perlu untuk mempengaruhi orang lain. Untuk menjadi seorang pemimpin itu dia harus bisa memimpin dari lingkungan yang kecil yaitu dirinya sendiri, keluarga, perusahaan hingga di linkungan yang besar yaitu Negara. Dengan kritikal buku ini kita lebih dapat membandingkan antara dua buku tentang kepemimpinan dengan penulis yang berbeda guna untuk menambah wawasan serta pengalaman dalam sikap berkepemimpinan.


















REFERENSI
Thoha, Miftah. 2009. Kepemimpinan dalam Manajemen. Jakarta: Rajawali Pers
Suseno, Darmo Budi. 2009. Leader yang Ship. Jakarta: Milestone


Read more ...

Mau buat buku tamu ini ?
Klik di sini
Cpx24.com CPM Program

Artikel Menarik Lainnya

Copyright © 2017 | Designed By Afif Ma'ruf Yulfriza